Malam Naas di Kosan Seks
### Malam Naas di Kosan Seks
Di sebuah kosan kumuh pinggiran Jakarta, malam itu hujan deras mengguyur, membuat udara lembab dan panas seperti nafsu yang mendidih. Rina, mahasiswi semester akhir berusia 21 tahun, baru pulang dari kuliah malam. Tubuhnya yang montok, dengan payudara montok ukuran 36D yang selalu bergoyang-goyang di balik kaus ketatnya, membuat para cowok di kampus selalu ngaceng diam-diam. Pinggulnya lebar, pantatnya bulat kenyal seperti buah pepaya matang, dan celana jeansnya yang ketat membentuk lekuk memeknya yang sudah basah karena hujan. Rambut panjangnya basah kuyup, menempel di kulit sawo matangnya yang mulus.
Rina membuka pintu kamarnya yang sempit, tapi kaget setengah mati saat melihat Andi, tetangga sebelah kamarnya, sudah duduk di kasurnya. Andi, cowok 25 tahun badan atletis, kulit item legam, dan kontolnya yang sudah terkenal gede panjang seperti pentungan di kalangan cewek kosan. "Lo ngapain di sini, Di? Pintu lo kenapa?!" bentak Rina sambil melempar tasnya. Andi nyengir jail, matanya langsung nempel ke tetek Rina yang basah dan benjolan putingnya yang mengeras karena dingin. "Pintu gue banjir, Rin. Lo kan baik hati, bagi kamar dong malam ini. Lagian, lo sendirian terus, pasti kesepian kan memek lo?"
Rina kesal tapi anehnya memeknya mulai gatal. Sudah dua minggu dia nggak dientot, gara-gara mantannya putus. "Gila lo! Gue tidur aja, lo jangan macem-macem!" katanya sambil melepas kausnya, meninggalkan bra hitam tipis yang nyaris transparan. Payudaranya yang gede dan berat bergoyang bebas, puting cokelatnya yang besar sudah ngaceng keras. Andi nggak tahan, kontolnya langsung tegang di celana pendeknya, membentuk tonjolan besar. "Fuck, tetek lo gede banget, Rin. Gue boleh pegang nggak? Pasti empuk kayak bantal."
Tanpa nunggu jawaban, Andi bangun dan langsung meremas tetek Rina dari belakang. "Ahh! Bangsat lo!" jerit Rina, tapi badannya malah merinding enak. Tangan Andi kasar, meremas-remas putingnya sambil cubit keras, membuat Rina mendesah pelan. "Suka kan? Memek lo pasti udah banjir nih." Andi tangannya turun ke celana Rina, meraba celana dalamnya yang sudah basah kuyup. "Iya nih, basah banget! Lo jalang ya, Rin? Pengen dientot ya malam ini?"
Rina nggak bisa bohong lagi. Nafsunya meledak. Dia balik badan, dorong Andi ke kasur, dan langsung buka resleting celana Andi. "Woi, kontol lo gede banget! Kayak kelelawar raksasa!" seru Rina sambil pegang batang kontol Andi yang panjang 20 cm, tebal seperti botol coca cola, urat-uratnya menonjol, dan kepalanya merah mengkilap sudah basah precum. Rina langsung hisap, mulutnya yang kecil kesusahan tapi dia paksa masuk setengahnya. "Slurpp... mmmh... enak banget kontol lo, asin dan bau tai lo pagi tadi!" vulgarnya sambil jilat-jilat bololnya yang hitam berbulu lebat.
Andi mengerang kesakitan enak, pegang kepala Rina dan tusuk mulutnya dalam-dalam. "Jilat bersih, jalang! Hisap sampe keluar sperma gue!" Rina ngorok-ngorok, air liurnya belepotan ke kontol Andi, sambil tangannya remas telur kontolnya yang gede seperti telur ayam. Setelah lima menit, Andi tarik Rina naik, sobek bra dan celana dalamnya. "Lihat nih memek lo, merah muda, chubby, bibirnya tebel basah kuyup klitorisnya ngaceng!" Andi jilat memek Rina ganas, lidahnya masuk ke lubangnya yang licin, hisap klitorisnya seperti bayi nyusu. "Aduh! Jilat terus, Di! Memek gue gatel banget! Ahhh... gue mau muncrat!"
Rina squirting deras, air memeknya nyiprat ke muka Andi. "Enak banget, jalang! Sekarang giliran gue ngebor memek lo!" Andi angkat pinggul Rina, arahkan kontolnya ke lubang memek yang menganga, dan tusuk sekali masuk sampe pangkal. "Arrrghhh! Kontol lo gede banget, sobek memek gue! Ahhh pelan!" jerit Rina, tapi pinggulnya malah goyang sendiri. Andi pompa cepat, kontolnya keluar masuk memek Rina yang berlendir, bunyi 'plek-plek-plek' basah memenuhi kamar. Tetek Rina berguncang-guncang seperti bola basket, Andi hisap putingnya sambil gigit keras.
"Gue mau doggy, Di! Entot pantat gue!" pinta Rina mesum. Dia berlutut, angkat pantatnya yang bulat gede, memeknya terbuka lebar dari belakang, lubang pantatnya cokelat mungil ikut mengintip. Andi ludahin tangan, olesin ke lubang pantat Rina, lalu tusuk kontolnya pelan ke memek dulu. "Memek lo ketat banget, ngejepit kontol gue! Sekarang pantat lo!" Andi geser ke lubang pantat, dorong keras. "Aduh! Sakit tapi enak! Kontol lo masuk pantat gue, Di! Entot sampe bolong!"
Andi ngentot pantat Rina brutal, tangannya tampar pantatnya merah, jarinya colek memeknya bersamaan. Rina jerit-jerit mesum, "Iya! Tampar pantat gue, gue jalang lo! Kontol lo panas banget di dubur gue! Ahhh gue orgasme lagi!" Tubuh Rina gemetar, memeknya muncrat lagi. Andi nggak tahan, tarik kontolnya keluar dari pantat, arahkan ke muka Rina. "Terima sperma gue, pelacur!" Tembakan sperma kental putih panas menyemprot muka Rina, mulutnya, teteknya, sampe perutnya belepotan.
Mereka ambruk di kasur, napas ngos-ngosan. Tapi nafsu belum puas. Andi balik lagi, kontolnya yang masih setengah tegang langsung masukin ke memek Rina yang becek sperma. "Ronde dua, Rin! Gue mau bikin lo hamil malam ini!" Pompa lagi lebih ganas, Rina cakar punggung Andi, gigit bahunya. "Isi memek gue sperma lo, Di! Gue mau kontol lo terus setiap malam!"
Malam itu mereka ngentot sampe pagi, ganti posisi 69 di mana Rina hisap kontol Andi sambil memeknya dimakan, lalu misionaris dengan kaki Rina di bahu Andi supaya kontolnya nancep dalem banget sampe ke rahim. Sperma Andi keluar lagi tiga kali: sekali di memek, sekali di pantat, dan terakhir di mulut Rina yang dia tel
Komentar
Posting Komentar