**Cerita Erotis: Nafsu Wahyu yang Tak Terbendung**

**Cerita Erotis: Nafsu Wahyu yang Tak Terbendung**
Wahyu baru saja pulang dari kantor pukul 9 malam. Tubuhnya lelah, tapi kontolnya sudah setengah tegang sejak siang tadi. Dia tinggal sendirian di apartemen mewah di lantai 12. Begitu pintu terbuka, dia langsung melihat tetangga barunya, Sinta, sedang membungkuk mengambil paket di depan pintu sebelah. Rok pendek Sinta naik sampai atas paha, memperlihatkan celana dalam hitam yang ketat membungkus memeknya yang montok. Bulu halus di paha putihnya membuat Wahyu langsung menelan ludah.

“Malam, Mas,” sapa Sinta sambil tersenyum genit. Payudaranya yang besar hampir meledak dari kemeja tipis. Putingnya jelas kelihatan menonjol karena tidak memakai bra.

Wahyu tak bisa menahan diri. “Masuk yuk, Sin. Minum dulu. Panas malam ini.”

Tak sampai lima menit, mereka sudah duduk di sofa. Obrolan ringan cepat berubah mesum. Sinta mengaku sudah tiga bulan tidak dientot suaminya yang sedang dinas ke luar kota. Wahyu langsung membuka celana, mengeluarkan kontolnya yang sudah berdiri sempurna. Kontolnya besar, panjang 18 cm, kepala merah mengkilap, urat-urat tegang berkedut.

“Wahh… gede banget, Mas,” bisik Sinta sambil langsung meraihnya. Tangan lembutnya menggenggam batang kontol Wahyu, mengocoknya pelan dari bawah ke atas. Jempolnya memutar di kepala kontol, menyebarkan cairan precum yang keluar deras.

Wahyu mengerang. “Hisap kontolku, Sin. Masukin semua ke mulutmu yang cantik.”

Sinta langsung berlutut di antara kaki Wahyu. Lidahnya menjilat dari bola-bola zakar yang penuh sperma sampai ke ujung kontol. Lalu dengan rakus dia membuka mulut lebar-lebar, menelan kontol Wahyu hingga ke tenggorokan. “Gluck… gluck… gluck…” suara isapan basah memenuhi ruangan. Air liurnya menetes ke bola-bola Wahyu. Wahyu memegang kepala Sinta, mendorong kontolnya lebih dalam hingga Sinta tersedak, matanya berair, tapi dia semakin semangat mengulum.

“Enak banget mulutmu, jalang. Hisap lebih kuat!” kata Wahyu kasar.

Setelah lima menit mengocok mulut Sinta, Wahyu membalik tubuh wanita itu. Dia merobek rok dan celana dalam Sinta hingga robek. Memek Sinta sudah banjir. Bibir memeknya tebal, pink mengkilap, klitorisnya membengkak minta diisap. Wahyu langsung menempelkan wajahnya, menjilat memek itu dengan rakus. Lidahnya menembus lubang vagina yang sempit, mengecap rasa asin-manis cairan Sinta yang mengalir deras. Dia mengisap klitorisnya kuat-kuat sambil memasukkan dua jari ke dalam memek yang sudah sangat basah.

“Aaahhh… Mas Wahyu… jilati memekku… enak… jangan berhenti… aku mau cum!” jerit Sinta sambil menggoyang pinggulnya, menekan memeknya ke muka Wahyu.

Wahyu menjilat semakin liar, lidahnya berputar di klitoris, tiga jarinya mengocok memek Sinta dengan cepat hingga bunyi “cet… cet… cet…” cairan memercik ke sofa. Sinta orgasme pertama. Tubuhnya kejang, memeknya menyemprot cairan bening ke wajah Wahyu.

Tanpa memberi waktu istirahat, Wahyu berdiri, mengangkat satu kaki Sinta tinggi, lalu menyodokkan kontolnya yang sudah sangat keras ke dalam memek Sinta yang masih berdenyut.

“Ngghhh!! Kontooolll… gede banget… memekku robek Mas!!” teriak Sinta.

Wahyu mengentot dengan kuat. Setiap sodokan masuk sampai pangkal, bola-bolanya menampar clit Sinta. Bunyi “plok plok plok plok” memenuhi apartemen. Kontol Wahyu keluar-masuk memek yang semakin basah, cairan Sinta berbuih di batang kontolnya.

“Memekmu sempit sekali, Sin. Enak banget ngentot memek tetangga,” kata Wahyu sambil meremas payudara Sinta keras, memilin putingnya hingga merah.

Mereka pindah ke kamar. Wahyu membaringkan Sinta di atas kasur, mengangkat kedua kakinya ke bahu, lalu mengentot dalam posisi mating press. Kontolnya menghunjam sangat dalam, menyentuh dinding rahim Sinta setiap kali. Sinta menjerit-jerit kenikmatan, kuku-kukunya mencakar punggung Wahyu.

“Entot aku lebih keras, Mas! Jadikan aku pelacurmu! Isi memekku dengan sperma panasmu!”

Wahyu semakin gila. Dia mengentot seperti mesin, kontolnya menghantam memek Sinta tanpa ampun. Keringat mereka bercampur. Bau sex memenuhi kamar. Wahyu lalu membalik Sinta ke posisi doggy. Pantat montok Sinta yang bulat sempurna dia tampar keras hingga memerah. Lalu dia memasang kontolnya lagi, mengentot dari belakang sambil menarik rambut Sinta.

“Memekmu milikku sekarang. Setiap malam aku akan ngentot kamu sampai kamu tidak bisa jalan.”

Sinta hanya bisa mendesah dan menjerit, “Iya Mas… aku pelacurmu… ngentot memekku… aku mau cum lagi!!”

Wahyu merasakan bola-bolanya menegang. Dia mempercepat ritme, kontolnya membesar di dalam memek Sinta. Dengan raungan keras, dia menyemburkan sperma panasnya yang kental dan banyak ke dalam rahim Sinta. Semprotan demi semprotan, sperma memenuhi memek wanita itu hingga meluber keluar ketika kontol Wahyu ditarik.

Tapi Wahyu belum puas. Dia membaringkan Sinta lagi, memasukkan kontolnya yang masih setengah keras ke mulut Sinta. “Bersihkan kontolku yang penuh campuran memek dan sperma.”

Sinta menjilat dan mengulum dengan patuh, membersihkan setiap inci kontol Wahyu. Tak lama kontol itu kembali keras. Mereka melanjutkan ronde kedua. Kali ini Sinta naik ke atas, menggoyang pinggulnya liar dalam posisi cowgirl. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang indah. Wahyu menampar payudara itu sambil menikmati pemandangan kontolnya menghilang masuk ke memek Sinta yang sudah penuh sperma.

Mereka ngewe selama hampir dua jam. Wahyu mengisi memek Sinta tiga kali, sekali di mulut, dan sekali menyemprotkan sperma kental ke wajah cantik serta payudara Sinta. Sinta orgasme enam kali, memeknya bengkak dan terus mengeluarkan cairan.

Pagi harinya, Sinta bangun dengan memek masih meneteskan sperma kering Wahyu. Dia tersenyum puas dan berbisik di telinga Wahyu yang masih tidur, “Malam ini aku datang lagi, Mas. Kontolmu harus mengentot memekku setiap hari.”

Wahyu tersenyum dalam tidurnya. Nafsunya yang besar baru saja menemukan mainan baru yang sempurna.

(Cer

Komentar