**Cerita Erotis: Nafsu Adi yang Menggila**
**Cerita Erotis: Nafsu Adi yang Menggila**
Adi, pemuda 25 tahun bertubuh kekar dengan otot perut sixpack yang terbentuk dari rutin gym, sedang duduk sendirian di kamar kosannya yang sempit. Malam itu udara terasa panas dan pengap. Kontolnya sudah setengah mengeras di dalam celana pendeknya hanya karena memikirkan Mbak Rina, tetangga sebelah yang umurnya 34 tahun, berbadan montok, teteknya besar seperti melon matang, dan pantatnya bulat menggoda setiap kali dia berjalan pakai kaos ketat.
Tangan Adi merayap ke dalam celana, memegang batang kontolnya yang sudah membesar. Ia mengocok pelan, membayangkan memek Mbak Rina yang pasti sudah basah dan haus. “Ahh… memekmu pasti enak banget, Mbak,” gumamnya mesum sambil menggosok kepala kontolnya yang mengeluarkan precum lengket.
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Adi buru-buru menarik tangannya, tapi tonjolan kontolnya masih jelas. Ia membuka pintu dan langsung terkejut. Mbak Rina berdiri di depannya hanya memakai tanktop tipis tanpa bra dan rok pendek. Putingnya yang hitam dan mengeras jelas terlihat menembus kain.
“Malam, Di… aku boleh masuk? Suamiku lagi dinas, aku sendirian dan… panas banget,” kata Mbak Rina dengan suara genit, matanya langsung turun ke kontol Adi yang menegang.
Tanpa menunggu jawaban, Mbak Rina masuk dan langsung menutup pintu. Ia mendorong Adi ke tempat tidur. “Gila… kontolmu besar sekali, Adi. Udah lama aku ngeliatin tonjolan ini setiap kamu cuci motor tanpa baju.”
Rina langsung berlutut di depan Adi. Dengan tangan nakal ia menarik celana pendek Adi hingga kontolnya melompat keluar. Batangnya yang panjang, tebal, dengan urat-urat menonjol dan kepala kontol yang merah mengkilap karena precum. Rina langsung menjilat dari bawah zakar hingga ke lubang kontolnya.
“Enak… bau kontol cowok muda enak banget,” katanya vulgar sambil memasukkan seluruh kepala kontol ke dalam mulutnya. Ia mengisap rakus, lidahnya berputar-putar di kepala kontol sambil tangannya mengocok batang yang tak muat masuk semua. Suara *slurp slurp* basah memenuhi kamar. Air liur Rina menetes ke telur Adi yang besar dan penuh sperma.
Adi mengerang keras, tangannya meremas rambut Rina. “Suck harder, Mbak… isap kontolku seperti pelacur murahan. Ya ampun, mulutmu panas banget!”
Rina semakin gila. Ia menelan kontol Adi hingga ke tenggorokan, muntah-muntah kecil tapi tetap mengisap dengan rakus. Tangan Adi kemudian menarik tanktop Rina, melepaskan tetek besarnya yang bergoyang-goyang. Teteknya putih dengan puting hitam besar. Adi meremasnya kasar, memilin puting seperti mau memeras susu.
“Kontolmu enak, Di… sekarang giliran aku,” kata Rina sambil berdiri dan menanggalkan roknya. Memeknya sudah telanjang, tidak pakai celana dalam. Bibir memeknya tebal, pink mengkilap, sudah banjir cairan bening yang menetes ke paha. Bulu kemaluannya dicukur rapi, hanya menyisakan sedikit di atas klitoris yang sudah membengkak.
Adi langsung mendorong Rina ke kasur, membuka lebar kedua pahanya. Bau memek yang asam-manis langsung menyengat hidungnya. Ia menempelkan wajahnya dan menjilat memek itu dengan rakus. Lidahnya menyelusup ke dalam lubang vagina yang sempit dan panas, menjilat dinding-dindingnya yang berdenyut. Ia mengisap klitoris Rina kuat-kuat sampai Rina menjerit.
“Aaahhh! Jilat memekku, Adi! Jilat memek tantemu yang sudah lama tidak di entot! Aduh… enakkk… lidahmu dalam sekali!”
Adi memasukkan dua jarinya ke dalam memek Rina sambil terus menjilat. Memeknya sangat banjir, cairan muncrat tiap jari Adi keluar-masuk. Rina menggoyang pinggulnya seperti anjing kawin, menekan memeknya ke muka Adi.
Tak tahan lagi, Adi bangkit. Ia mengarahkan kepala kontolnya yang sudah mengkilap ke lubang memek Rina yang berkedut-kedut minta diisi. Dengan satu dorongan kuat, setengah kontolnya masuk.
“Arghhh! KONTOLMU BESAR BANGET!” jerit Rina.
Adi terus mendorong sampai pangkal. Memek Rina sangat rapat, dindingnya seperti menggigit kontol Adi. Ia mulai mengentot dengan ritme cepat dan kuat. Setiap hentakan bunyinya *plok plok plok* basah karena memek Rina yang sangat luber.
“Enak, Mbak? Memekmu ngemut kontolku banget! Sempit dan panas seperti memek perawan!” kata Adi sambil meremas tetek Rina kasar.
“Iya… entot aku lebih keras! Pacarin memek tante ini! Jadikan aku pelacurmu malam ini!” Rina balas sambil memeluk leher Adi dan menciumnya liar, lidah mereka saling menjilat.
Adi mengubah posisi. Ia membalik tubuh Rina jadi doggy style. Pantat montok Rina yang bulat terangkat tinggi. Adi mengentot dari belakang dengan ganas. Kontolnya keluar-masuk memek dengan cepat. Ia menampar pantat Rina keras sampai memerah. Setiap tamparan membuat memek Rina semakin berkedut.
“Tampar lagi! Aku suka kasar! Entot memekku sampai rusak!” jerit Rina.
Adi menarik rambut Rina seperti tali kekang sambil terus menggenjot. Peluh mereka bercampur. Suara erangan dan tabrakan daging memenuhi kamar. Rina orgasme pertama kali dengan hebat. Memeknya menyembur cairan sampai membasahi paha Adi dan kasur. Tubuhnya kejang-kejang, tapi Adi tidak berhenti. Ia terus mengentot di tengah orgasme Rina.
Beberapa menit kemudian Adi menarik kontolnya yang sudah penuh cairan memek. Ia mengarahkan ke lubang anus Rina yang kecil dan merah.
“Mau masuk sini juga, Mbak?” tanya Adi dengan suara mesum.
Rina mengangguk sambil menggigit bibir. “Masukin… aku mau merasakan kontolmu di lubang pantat.”
Adi meludahi kontolnya dan lubang anus Rina, lalu mendorong pelan. Kepala kontolnya masuk dengan susah payah. Rina menjerit kesakitan bercampur kenikmatan. Lambat laun seluruh batang kontol Adi masuk ke dalam pantat Rina yang sempit.
Ia mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya pelan, lalu semakin cepat. Pantat Rina yang montok bergoyang setiap kali kontol Adi menghantamnya. Adi meraih tangan Rina dan membawanya ke memeknya sendiri agar Rina mengocok klitorisnya sendiri.
Komentar
Posting Komentar